Pernahkah Anda menyuruh anak merapikan mainannya, tapi lima menit kemudian ia sudah asyik bermain yang lain dan melupakan tugasnya? Atau, ia sering lupa nama teman atau lagu yang baru saja diajarkan? Jangan langsung menyimpulkan kalau ia malas atau tidak mendengarkan. Bisa jadi, ada alasan lain yang perlu kita pahami.
Sebagai orang tua, kita perlu tahu bahwa ada beberapa hal yang membuat anak di usia 4-6 tahun menjadi pelupa. Memahami penyebabnya akan membantu kita mencari solusi yang tepat, bukan memarahi mereka.
Alasan Utama Mengapa Anak Sering Lupa
Memori kerjanya masih berkembang
Memori kerja adalah papan tulis mental di otak yang menampung informasi untuk waktu singkat, seperti saat kita mengikuti instruksi atau menyelesaikan masalah. Pada anak usia dini, papan tulis ini masih sangat kecil. Mereka tidak bisa menyimpan banyak informasi sekaligus.
Kurang Perhatian dan Fokus
Dunia anak penuh dengan hal menarik. Otak mereka mudah terdistraksi oleh suara, benda, atau hal baru di sekitarnya. Jika perhatian mereka teralihkan saat Anda berbicara, informasi yang Anda berikan tidak akan sempat masuk ke memori kerja.
Contoh: Saat Anda mengajarinya berhitung, tiba-tiba ada kucing lewat, dan semua perhatiannya langsung beralih ke kucing tersebut.
Bukan Prioritas Baginya
Anak akan mengingat sesuatu jika hal itu penting atau menarik baginya. Jika ia tidak melihat relevansi dari apa yang Anda minta, otaknya akan membuang informasi tersebut untuk memberi ruang bagi hal lain yang lebih menarik, seperti bermain.
Contoh: Ia lebih mudah mengingat lirik lagu kartun favorit daripada nama-nama hari karena lagu itu memberinya kesenangan.
Keterampilan Mengingat Belum Terlatih
Mengingat adalah sebuah keterampilan. Otak perlu dilatih untuk mengorganisir dan menyimpan informasi. Anak-anak belum memiliki strategi alami untuk mengingat, seperti membuat catatan atau mengulang.
Cara Asyik Menguatkan Memori Kerja Anak
Berikan Instruksi Satu per Satu
Daripada berkata, "Ambil buku, duduk di karpet, dan buka halaman 5," ubahlah menjadi:
-"Sekarang, ambil buku,"
-Setelah anak melakukannya, lanjutkan, "Lalu, duduk di karpet,"
-Terakhir, "Sekarang, buka halaman 5."
Memecah tugas besar menjadi langkah-langkah kecil akan mengurangi beban di "buku catatan" otaknya.
Jadikan Visual
Anak-anak sangat suka belajar dengan mata mereka. Gunakan gambar, foto, atau benda nyata untuk membantu mereka mengingat.
-Saat mengajar berhitung, tunjukkan jari Anda atau gunakan buah-buahan.
-Untuk rutinitas harian, buatlah jadwal bergambar. Misalnya, gambar sikat gigi untuk "waktunya sikat gigi," atau gambar piring untuk "waktunya makan".
Mengulangi kata
Pengulangan adalah kunci. Ucapkan kembali instruksi penting dan ajak anak mengulanginya. Tanyakan, "Kita mau bikin apa? Coba sebutkan lagi!" Ini memaksa otaknya untuk memproses dan menyimpan informasi.
Buat Hubungan dengan Sesuatu yang Anak Kenal
Ajak anak menghubungkan informasi baru dengan sesuatu yang sudah ia tahu. Saat mengenalkan huruf "S", tanyakan, "Apa lagi, ya, yang diawali dengan huruf 'S'?" (Misalnya: "S-api," "S-usu").
Bermain Sambil Melatih Memori
Beberapa permainan sangat bagus untuk melatih memori kerja.
-Permainan Memori: Susun beberapa kartu terbalik, lalu minta anak menemukan pasangan gambarnya.
-Permainan "Saya pergi ke pasar dan membeli...": Mulai dengan satu barang, lalu setiap orang menambahkan satu barang baru sambil menyebutkan semua barang sebelumnya.
Dengan menerapkan cara-cara di atas, Anda tidak hanya membantu anak mengingat, tetapi juga membangun fondasi yang kuat untuk kesuksesan belajarnya di masa depan.
Referensi